Loading...
Kegiatan

Koridor 5 Trans Jatim: Aksesibilitas dan Tantangan bagi Penyandang Disabilitas

15-11-2024

Surabaya, Radio Braille Surabaya (RBS) - Trans Jatim Koridor 5 yang menghubungkan Terminal Purabaya di Surabaya dengan Bangkalan, Madura, telah diluncurkan pada awal Oktober 2024. Selama satu minggu pertama peluncurannya, layanan transportasi ini digratiskan untuk umum. Selama masa uji coba, Trans Jatim Koridor 5 berhasil mengangkut puluhan ribu penumpang, menunjukkan tingginya antusiasme warga untuk mencoba moda transportasi ini.

Secara umum, Trans Jatim Koridor 5 memiliki kapasitas yang cukup besar, dengan 20 tempat duduk dan ruang berdiri untuk 20 penumpang. Dengan total kapasitas 40 orang, Trans Jatim memberikan suasana perjalanan yang nyaman, terlebih dengan adanya AC, CCTV, alat pengaman darurat, dan alat pemecah kaca.

Namun, jika berbicara tentang aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, ada beberapa catatan penting yang muncul. Misalnya, penumpang tuna netra dan tuna rungu masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi mengenai halte atau lokasi bus yang sedang berjalan. Di beberapa koridor lain, Trans Jatim telah memasang layar informasi (running text) yang menunjukkan posisi bus saat ini. Namun, pada Koridor 5, layar ini hanya menampilkan informasi secara umum tanpa menunjukkan lokasi secara spesifik.

Selain itu, Trans Jatim Koridor 5 juga tidak dilengkapi dengan sistem audio yang dapat membantu penumpang tunanetra untuk mengetahui lokasi. Biasanya, petugas atau helper di dalam bus akan menginformasikan halte selanjutnya secara lisan, namun hal ini masih kurang efektif jika dibandingkan dengan sistem audio otomatis.

Kondisi halte juga menjadi perhatian. Di Terminal Purabaya, halte Trans Jatim Koridor 5 tidak memiliki ubin pemandu sehingga menyulitkan penyandang tunanetra. Berbeda dengan halte-halte koridor lainnya, halte Koridor 5 juga tidak menyediakan petugas khusus untuk membantu penumpang difabel.

Salah satu hal yang menarik di Koridor 5 adalah adanya area khusus untuk pengguna kursi roda. Area ini ditempatkan di bagian belakang bus. Sayangnya, tidak adanya fasilitas pendukung yang memadai membuat pengguna kursi roda kesulitan untuk mengaksesnya. Desain halte yang tidak sesuai dengan tinggi bus membuat pengguna kursi roda membutuhkan bantuan ekstra untuk naik dan turun dari bus, hal ini akan menyulitkan jika tidak ada helper atau petugas di dalam bus.

Dengan tarif yang terjangkau yaitu Rp5.000 untuk sekali jalan, Trans Jatim Koridor 5 memberikan solusi mobilitas murah bagi masyarakat. Selain itu, kebijakan bebas biaya tambahan jika transit ke koridor lain dalam waktu dua jam pertama juga menjadi nilai tambah. Kebijakan ini semakin memudahkan penumpang yang melakukan perjalanan antar kota di Gerbang Kertosusila, antara lain Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, dan Surabaya.

Sayangnya, Trans Jatim Koridor 5 yang selama ini menjadi solusi mobilitas bagi warga non-disabilitas masih harus melakukan banyak penyesuaian agar benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas. Semoga ke depannya, pemerintah dan pengelola bisa lebih memperhatikan aksesibilitas ini agar semua warga, termasuk penyandang disabilitas, bisa menikmati transportasi umum dengan nyaman.